Label

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 April 2012

Banjir di Jakarta banjir Kiriman?



Menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta yang akan dilaksanakan pada tanggal 11 Juli 2012 membuat masyarakat ramai membicarakannya. Pembicaraan tersebut tidak lepas dari banjir dan kemacetan.

Pagi ini saya berangkat ke kantor yang ada di daerah Jakarta Pusat menggunakan bis jurusan Kp. Rambutan - Ciledug. Di dalam bis itu, saya duduk di bangku tiga paling pinggir. Sebelah saya duduk dua orang bapak-bapak yang tidak saling mengenal satu sama lain. Mayoritas penumpang tertidur selama perjalanan. Suasana yang paling biasa terjadi kalau naik bis di pagi hari.

Sebenarnya hal yang biasa juga kalau pagi-pagi jakarta macet. Akan tetapi yang menarik bagi saya saat itu adalah seorang bapak membuka pembicaraan dengan bapak di sebelahnya karena berawal dari kemacetan. Berikut kurang lebih percakapan antara kedua bapak itu.

A : Bagi saya, tidak ada gubernur yang bisa menghapus macet dan mengatasi banjir.

B : Kenapa pak?

A : Iya, orang-orang udah punya kendaraan pribadi. Apalagi sekarang DP motor murah. Naek angkutan umum juga orang malas karena kondisi angkutan umum yang memprihatinkan, Jadinya pada lari ke motor.

B : Iya ya pak.

A : Kalo menurut saya, mungkin satu2nya jalan ya ngelebarin jalanan. Tapi paling itu cuma sementara. Dana untuk kesejahteraan rakyat juga dikorupsi.

B : bener juga pak.

A : Iya. Nah, kalo banjir kayanya dari jaman duluuu Jakarta juga udah banjir. Ga mungkin bisa ditanggulangi. Masa kita mau angkat Jakarta ke atas? Jadi Jakarta ga rendah lagi.

B : Wah, bapak ada-ada aja. hehehe

A : Tapi saya serius loh pak, ga mungkin kan kita angkat kota Jakarta biar ga banjir? Pake apa coba ngangkatnya?

B : Bener juga sih pak.

A : Saya juga sebenarnya tersinggung dengan media-media yang ada sekarang ini. Kalo ada banjir di daerah kali ciliwung sana, mereka selalu bilang "banjir kiriman bogor". Apa maksudnya itu? Saya sebagai orang Bogor merasa tersinggung. Ko jadi Bogor yang disalahkan? dari mana mereka mendapatkan kata-kata banjir Kiriman dari Bogor? Ko rasa-rasanya...

B : Kurang tepat ya pak penggunaannya.

A : Betul pak, kurang tepat. Kemana itu tata bahasanya? Kan kalo kiriman itu harus ada pengirimnya dan penerima. kaya kirim surat gtu lah pak. Lah, kita kan ga pernah mengirim. Aliran air apa adanya saja ngikutin arus. Masa dibilang banjir kiriman?

B : Iya yah. kaya ngirim surat gtu ada yang nerima dan ngirim.

A : Nah, itu dia. Tapi kalo setiap kali ada banjir rob di daerah pantai, selalu media bilang banjir rob dan ga pernah bilang banjir kiriman dari laut? Apa karena laut ga ada penghuninya jadi ga bisa disalah-salahin tapi bogor ada penghuninya jadi disalah-salahin?

B : Bapak ada-ada aja. Tapi iya yah, saya juga belum pernah denger banjir rob, banjir kiriman dari laut.

A : Iya kan. Oke lah kalo minuman Aqua kiriman dari Bogor. Itu memang bener mereka kirim dari Bogor buat ke Jakarta. Giliran banjir dibilang banjir kiriman Bogor padahal ga bener itu. Tapi kalo musim kemarau ga ada air kan lebih bahaya lagi. Perusahaan air di penjernihan atau pejompongan sana ga bisa nyuling air kan?

B : (manggut-manggut)

A : kalo ga ada air, mereka susah juga kan? kalo seperti yang mereka bilang banjir itu kiriman dari Bogor, berarti air yang ada di sungai di Jakarta waktu musim kemarau juga dari Bogor. Tapi ko mereka ga pernah muji-muji Bogor telah memberikan aiornya untuk kelangsungan masyarakat di Jakarta?

B : Bapak ini bisa aja.

A : Nah ini nih, saya ga sukanya. kalo yang jelek-jelek aja diekspos. kalo yang bagus diem-diem aja. Heran saya sebenarnya.

Kira-kira begitulah percakapan yang saya dengar pagi ini. Sebenarnya, mereka terus berbincang-bincang tentang apakah benar penduduk Indonesia ramah? dan lain sebagainya. Memang kita ga boleh  nguping pembicaraan orang lain, tapi mereka mendiskusikan hal yang menyentil. Apa daya telinga saya jadi ikut mendengarkan. :D

Kamis, 02 Februari 2012

Belajar tentang Kehidupan dari Memasak



Banyak orang yang berpendapat bahwa memasak itu hanya dilakukan oleh ibu-ibu atau pembantu di rumah. Tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa memasak itu sulit dan membosankan. Pada kenyataannya memasak itu bisa dilakukan oleh laki-laki atau perempuan di segala umur dan kalangan, tidak terlalu sulit, tidak membosankan, dan menyenangkan.
Saya pribadi menyukai memasak karena memasak itu menyenangkan. Saya merasa bahwa memasak sama dengan menyelesaikan suatu teka-teki seperti yang dilakukan detektif, mendapatkan opini dari para penikmat makanan mengenai hasil dari masakan saya, serta dengan memasak saya bisa menjadi lebih kreatif dan ekspresif.
Teka-teki yang dapat dihasilkan dari memasak itu mengenai rasa yang sesungguhnya akan saya tonjolkan dalam masakan, bisa manis, asam, asin, atau kombinasi rasa tersebut. Teka-teki itu dapat dirasakan saat kita pertama kali akan memulai masak-memasak. Perasaan dimana menentukan bahan utama yang akan dipakai, bumbu apa yang akan dipergunakan, bagaimana cara memasaknya agar menghasilkan masakan yang menggugah selera dan membuat penikmat makanan puas dengan cita rasa yang dihasilkan oleh masakan tersebut membuat saya bersemangat dalam mengerjakannya.
Saya bisa membuat satu bahan utama menjadi berbagai jenis masakan yang memiliki cita rasa asam, manis, pedas, atau rasa kombinasi. Misalnya dari dada ayam bisa menghasilkan ayam lada kecap serta ayam pedas manis. Atau bahan utama berupa udang, bisa dihasilkan udang goreng mentega serta udang goreng pedas.
Dengan memasak saya bisa berekspresi, menghasilkan suatu karya dari masakan saya yang menarik, unik, dan menggugah selera pastinya. Perasaan serta pikiran saya tercurah ketika memasak karena rasa penasaran dan semangat yang menggebu-gebu untuk mengetahui hasil akhir dari masakan saya. Semakin saya berekspresi terhadap masakan maka saya pun akan semakin mengenal rasa apa yang harus ditonjolkan, teknik memasak, dan meningkatkan kepercayaan diri.
Hasil dari masakan saya tersebut disajikan kepada para pencicip makanan seperti orang tua saya atau pacar saya.. Apabila mereka mengatakan masakan saya enak, sungguh suatu kepuasan yang tidak dapat dikatakan dengan kata-kata, perasaan senang serta bangga menyelimuti hati saya dan saya pun semakin bersemangat untuk memasak.
Memasak harus menggunakan perasaan yang baik. karena makanan yang kita hasilkan mencerminkan keadaan perasaan kita seperti apa. Saya pernah memasak dalam keadaan sedih dan hal itu mempengaruhi hasil dari masakan saya. Padahal kadar bumbu yang saya gunakan sama dengan yang saya gunakan sebelumnya. Awalnya saya tidak mengerti mengapa rasa dari masakan saya hancur, aneh, dan membuat saya mengerutkan kening. Lalu saya menyadari bahwa saya memasak dalam keadaan tidak baik. Hati saya sedang kalut saat itu. Dengan kata lain, masakan dapat memberitahukan keadaan perasaan si pembuat.
Oleh sebab  itu, saya selalu menggunakan perasaan cinta, kasih serta sayang dalam memasak. Dengan menggunakan perasaan cinta, kasih, dan sayang saya bisa memasak dengan ikhlas, semangat, suka cita serta membuat masakan saya lebih enak. Orang tua dan pacar saya yang mencicipinya pun akan merasa lebih special.
Banyak juga yang tidak tahu atau tidak menyadari bahwa memasak itu hampir sama seperti kehidupan. Apabila masakan kita terlalu manis akan terasa membosankan, apabila terlalu pedas yang memakannya pun akan kewalahan, apabila terlalu asin yang memakannya pun akan muak dengan rasanya, apabila tidak ada rasanya yang memakan pun tak berselera. Sama seperti kehidupan, apabila hidup kita terlalu manis, mungkin kita tidak akan pernah merasa bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Apabila kita terlalu bersikap pedas terhadap orang lain atau kehidupan kita, kita bisa saja tidak tahan dengan semua kejadian yang menimpa kita. Apabila kita tidak memaknai kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita, hidup akan berjalan hambar, tidak merasa bahwa hidup ini istimewa dengan segala kesenangan, kesedihan, serta kesusahan yang ada.

Sabtu, 28 Januari 2012

Pengamen Oh Pengamen

Ada satu kejadian yang menggelitik. Bukan menggelitik karena lucu tetapi lebih kepada miriss. Ini adalah kejadian yang mungkin hampir setiap orang yang menggunakan kendaraan umum mengalaminya. Pengamen. Pengamen jalanan di lampu merah.

Saya sendiri pernah meliput tentang pengamen cilik di sekitar perempatan Blok M. Terenyuh anak sekecil itu harus bekerja padahal keinginan dia untuk sekolah bisa dikatakan tinggi. Masa kecil yang dia habiskan di jalanan yang membuatnya berpikir berbeda dengan anak seusianya yang bisa menikmati indahnya masa kecil. Apalagi kalau kita melihat jalanan kota jakarta yang kurang ramah. Bisa membuat kita mengelus dada.

Terlepas dari perasaan tersentuh akan pengamen cilik yang saya wawancarai di Blok M, saya pernah merasa kesal dengan ulah pengamen cilik. Bukan untuk mematikan rasa kemanusiaan saya tetapi lebih kepada bagaimana pengamen cilik itu bekerja. Hal seperti merengek meminta belas kasihan yang membuat saya berpikir. Apa tidak bisa kalau tidak merengek? Mungkin dipikiran pengamen cilik itu dengan merengek dia bisa langsung mendapatkan uang. Tetapi sebenarnya lebih banyak orang yang merasa sebal kasihan juga dengan cara pengamen cilik itu. Apalagi kalau kita sudah memberi tetapi tidak mau dia terima karena meminta lebih dari nominal yang dia minta. Sudah itu jalan kita sampai harus "diboikot" dengan rengekannya. Kasihan, malu, kesal, dan sebal juga.

Akan tetapi ada yang lebih besar yang harus dipertanyakan.Kemana orang tuanya? memang saya melihat ada beberapa ibu-ibu yang berpenampilan kurang terawat duduk-duduk sambil ngobrol dengan sesama ibu pengamen di bawah kolong fly-over, Miris memang melihat anaknya "bekerja" dan orang tuanya santa-santai saja.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun tetapi untuk bahan renungan kita bahwa masih ada anak-anak yang memerlukan pendidikan demi kemajuan bangsa juga.

Selasa, 19 April 2011

kemarin saya ke central park dari kampus yang letaknya di senayang menggunakan busway
selama perjalanan menuju halte busway di ratu plaza, saya berpikir, untung ada busway yah jadi ga usah cape-cape mikir naek angkot apa
dari ratu plaza, saya turun di benhil
shock saya mengetahui panjangnya jembatan benhil ke semanggi tu
huaaa..
ada kali 1 km
untungnya saya ditemani oleh sang pacar, kelihatannya dia shock juga
alhasil kita ketawa-ketawa melintasi jembatan tersebut
panjang beneeerr..
emang cinta bgt ni yang bangun ma warganya
saya kepikiran juga, gimana seritanya kalo nenek-nenek yang lewat sini yah, kasian juga
udah jauh, naek-naek, dan ga ada tempat duduknya pula
huuh
pacar saya malah berpikir, bagaimana kalo panjangnya jembatan ini, kita bikin lomba lari jembatan busway
ok, seru juga tapi mungkin berbahaya
walaupun panjangnya yang ajigile, saya bisa melihat semanggi dan sekitarnya dari atas
lumayan jadi tau dimana yang macet dimana yang lancar
itung-itung naek jembatan ini bikin sehat dan membantu kita olah raga yah
selamatkan jantung kita!

Selasa, 15 Maret 2011

halohalo

Halo semuaa
Kali ini saya mau bercerita, atau lebih tepatnya menjelaskan, tentang beberapa postingan saya yang sama atau mirip dengan blog kacamata dan computer. Ada setidaknya 4 video yang sama dan 2 tulisan kami yang hampir mirip. Hal ini dikarenakan kita bekerja bersama-sama pada saat itu, bukan karena menyontek atau plagiat.
Pada empat video itu sebenarnya kita kerja bareng-bareng. Saya sebagai reporter dan Angga (kacamata dan computer) sebagai kameramennya atau di satu waktu sebaliknya. Kita membuat video itu karena tuntutan tugas kuliah jurnalistik media elektronik. Pengambilan gambar dan edit video kira-kira menghabiskan waktu 8 hari. Hampir gila sebenarnya kita pada saat itu karena stress tapi Alhamdulillah berhasil dilewati dan diselesaikan dengan baik.
Untuk 2 tulisan tentang badut dan Helena, kita bekerja bareng-bareng lagi. Pencarian data-data narasumber kita lakukan bersama. Akan tetapi dalam penulisan, pemilihan kata, serta gaya bahasa menggunakan kemampuan masing-masing.
Mengerjakan tugas dengan Angga bisa dibilang sangat menyenangkan. Walaupun perbedaan pendapat kerap menghampiri tetapi secara garis besar sangat mengasyikan. Kami memiliki hubungan yang sangat baik dan memiliki chemistry yang bagus. Kami saling melengkapi, mendukung, dan belajar.
Kami mempelajari teknik pengambilan gambar dan pencarian informasi dari beberapa sumber. Awal mula kami tertarik dengan media elektronik adalah saat kami sama-sama PKL di TPI (sekarang MNC TV) ditambah dengan mengikuti pelatihan jurnalistik dengan ANTV.
Saya sangat berterima kasih karena adanya kesempatan tersebut. Saya yakin Angga juga sangat berterima kasih dan bersyukur dengan adanya kesempatan tersebut.